Oleh: Catatan Perjalanan KKGPAI Kalideres
Di balik riuhnya deru mesin kota dan tumpukan berkas birokrasi Jakarta, terselip sebuah kisah tentang ketulusan yang melampaui batas jabatan. Ini bukan sekadar cerita tentang seorang pejabat yang duduk di kursi empuk kekuasaan, melainkan sebuah simfoni tentang seorang Umara’ yang membasuh langkahnya dengan spirit Ulama’. Beliau adalah Bapak H. Rokhidin, S.Pd., M.Si.—seorang pemimpin yang menjadikan pengabdian sebagai napas, dan keramahan sebagai bahasa utamanya.
Jika berkunjung ke kediaman Pak Haji—begitu beliau akrab disapa—pada setiap malam Jumat, Anda tidak akan menemukan kesan kaku khas kantor pemerintahan. Yang ada hanyalah kehangatan yang merangkul siapa saja yang bertamu. Di sana, di antara aroma wewangian kayu yang tenang dan lantunan doa yang mengetuk pintu langit, Pak Haji duduk bersila, sejajar dengan para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dari Kecamatan Kalideres.
Meski raga dan tugas kedinasannya kini telah berpindah ke wilayah Jakarta Pusat sebagai Kepala Seksi SMK Kursus dan Pelatihan Kota Jakpus, detak jantung kepeduliannya seolah telah menetap secara permanen di Kalideres. Beliau bukanlah tipe pemimpin yang membangun jarak dengan tembok protokoler yang dingin. Baginya, bawahan adalah saudara seperjuangan, dan rekan kerja adalah amanah Tuhan yang harus dijaga martabatnya. Di ruang tamu itu, dzikir bersama menjadi jembatan silaturahmi yang meruntuhkan sekat - sekat struktural, mengubah hubungan formal menjadi ikatan ukhuwah yang kokoh dan penuh keberkahan.
Kiprah seorang Pak H. Rokhidin adalah sebuah anomali yang indah di tengah dunia yang makin materialistis. Beliau tidak sekadar berteori tentang kesejahteraan umat; beliau membangunnya dengan ketulusan tangan sendiri. Di Kampung Kojan, Kelurahan Kalideres, berdiri tegak Yayasan Insan Cita yang menaungi jenjang SDI, SMP hingga SMK. Di sanalah, beliau merajut mimpi anak-anak bangsa, memastikan bahwa pendidikan berkualitas bukan hanya milik mereka yang berpunya.
Namun, yang paling menggetarkan sanubari adalah keberaniannya membangun jalan menuju langit melalui pendidikan Al-Qur'an. Di tengah kemewahan area perumahan Citra 6 yang modern, beliau menghadirkan TPQ, TPA Sekolah Tahsin dan Tahfidz yang diperuntukkan bagi masyarakat secara GRATIS. Tak berhenti di situ, tangannya menjangkau jauh hingga ke daerah Neglasari, Kota Tangerang, dengan mendirikan lembaga TPQ yang juga dioperasikan tanpa memungut biaya sepeser pun.
Bagi Pak Haji, ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak boleh dipadamkan hanya karena ketiadaan biaya. Beliau adalah arsitek masa depan yang percaya bahwa investasi terbaik bukanlah pada angka-angka di buku tabungan, melainkan pada setiap huruf hijaiyah yang dihafalkan oleh anak-anak didiknya.
Foto yang terpampang disana menjadi saksi bisu dan berbicara lebih lantang dari ribuan pidato. Di sana, Pak Haji duduk bersahaja di tengah-tengah para guru PAI. Mengenakan peci hitam dengan gestur tangan yang tertangkup di dada, ia menunjukkan sebuah filosofi kepemimpinan yang melayani. Tidak ada sorot mata yang angkuh; yang ada hanyalah ketenangan seorang pengayom yang tulus.
Foto tersebut bukan sekadar dokumentasi formal, melainkan manifestasi dari kerendahan hati seorang pimpinan panutan. Beliau adalah penasihat yang selalu mendengar sebelum berujar, yang memberi solusi sebelum diminta, dan yang selalu berdiri paling depan untuk mendukung setiap kegiatan positif keagamaan. KKGPAI Kecamatan Kalideres mungkin telah berganti kepemimpinan secara struktural, namun batin mereka tetap terikat pada sosok ayah dan penasehat yang tak pernah surut semangatnya dalam membimbing.
Dunia pendidikan dan birokrasi kita membutuhkan lebih banyak sosok seperti Pak H. Rokhidin — seseorang yang mampu menyeimbangkan kewajiban sebagai abdi negara dengan peran sebagai Mujahid pi sabilillah. Beliau telah membuktikan bahwa jabatan hanyalah kendaraan untuk menjangkau lebih banyak orang, dan kekuasaan adalah alat untuk memuliakan kemanusiaan.
Setiap malam Jumat yang khusyuk, setiap senyum ramah yang ia bagikan kepada bawahannya, dan setiap langkah kaki anak-anak yang belajar mengaji secara gratis di sekolahnya, adalah butiran mutiara yang sedang ia susun untuk masa depannya di keabadian. Kita yang melihat kiprahnya hanya bisa tertegun sembari melangitkan doa terbaik.
Semoga Bapak H. Rokhidin beserta seluruh keluarga senantiasa dipeluk oleh perlindungan Allah SWT, diberikan kesehatan yang paripurna, serta keberkahan yang terus meluap bak mata air yang tak pernah kering. Beliau adalah bukti nyata bahwa setinggi-tingginya derajat manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
"Jabatan bisa berakhir, tempat tugas bisa berpindah di peta administrasi Jakarta. Namun, nama H. Rokhidin telah terukir abadi di atas prasasti hati guru-guru PAI Kalideres dan dalam setiap doa anak-anak yang ia santuni. Seorang Umara’ yang membawa amanah Ulama’, mengajar kita semua bahwa hidup yang paling indah adalah hidup yang diwakafkan untuk menebar cahaya bagi orang lain".